
Sejumlah kasus penodaan kerukunan beragama di beberapa daerah yang terjadi belakangan ini, bisa menjadi bukti bahwa umat Islam dan umat Kristen di Indonesia merupakan ‘konsumen’ atau sasaran utama provokasi anti kerukunan beragama yang dapat memicu konflik antar-umat beragama.
Fenomena maraknya kasus penodaan kerukunan beragama tersebut berarti mulai ada pihak-pihak tertentu yang berupaya mengganggu kerukunan antar-umat beragama. Jika hal tersebut tidak segera diatasi, dikhawatirkan akan mengganggu pula keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pihak-pihak tertentu yang saya maksudkan disini tidak hanya dari dalam negeri saja. Sebab sepemantauan saya, ada pihak-pihak asing yang juga mengiginkan aksi-aksi tersebut terjadi.
Kita harus cermat menyikapi "peristiwa monas" serta yang terjadi di beberapa derah, seperti di Jawa Barat,Yogyakarta dan beberapa daerah lainnya menyusul "peristiwa monas". Apakah benar itu disebabkan oleh FPI atau orag lain yang menyamar FPI? Benarkah FPI anarkis? Jangan sampai ada pihak-pihak yang dengan gegabah asal menuduh karena akan semakin memperuncing konflik. Kutukan seyogyanya dialamatkan kepada pelaku anarkis, bukan kepada kelompok atau agama tertentu.
Saya hanya bisa mengharap, khususnya bagi saudara-saudara saya umat Islam, agar tidak mudah terhasut oleh kasus-kasus yang berpotensi mengganggu keharmonisan hubungan antar-umat beragama itu. Saya menduga kuat bahwa kasus-kasus tersebut memang sengaja dirancang, bukan kejadian yang tidak disengaja.
Selasa, Juni 03, 2008
Menjaga Kerukunan Beragama
Diposting oleh MATA di 20.24 1 komentar
Label: Kerukunan Beragama
Rabu, Mei 07, 2008
Komentar
Komentar atau biasa di sebut komen, adalah hal yang hampir wajib dalam khasanah blog Indonesa. Kenapa Indonesa? Karena, menurut dugaan saya, negara kita yang sontoloyo ini menciptakan suasana ketakutan pada individu-individu.
Untuk mengatasainya mereka membentuk kelompok. Hasilnya, muncullah keakraban antar individu yang lebih dari negara lain. Bukankah budaya grudag-grudug hanya ada disini? Bukankan hobi apa pun bisa menciptakan komunitas? Bukankah hobi kere pun masih bisa memunculkan BHI? Semangat komunal adalah cara untuk mengatasi ketidak-percaya-dirian per individu. Seperti guru-guru sekolah dasar dulu selalu bilang: lidi satu lebih mudah dipatahkan daripada sebuah sapu lidi. Benar tidaknya ya entah.
Pada awalnya, dan masih berlaku hingga saat ini, komentar merupakan bentuk apresiasi pembaca baik blogger maupun bukan terhadap ide yang penulis sampaikan. Pada perkembangannya, komen berkembang sebagai alat sosial antar blogger untuk mempererat hubungan antara penulis dan komentator. Pada hubungan yang kuat, komen bisa berisi ledekan, ejekan, bahkan makian.
Sejalan dengan semangat komunal, biasanya seorang blogger akan mencari blog-blog baru (termasuk hubungan pertemanannya). Lagi dan lagi. Hubungan pertemanan berkembang pesat. Di sisi lain, belantara blog yang begitu luas dan seperti tak terbatas, membuat waktu untuk sebuah tulisan semakin sempit. Maka kemudian, muncullah istilah jablay blog. Sebutan untuk mereka yang tidak benar-benar membaca, namun tetap ingin mempertahankan hubungan baik dengan teman mayanya yang semakin banyak.
Namanya juga kejar tayang, tentu saja tinggalan jejak ini terkesan asal-asalan. Maka tak perlu heran jika fahmi yang menerapkan aturan untuk para komentator di blognya:
1. NO pertamax.
2. Anonymous commenters are cowards.
3. Say something nice, or just shut up.
Ndoro, secara meledek juga pernah menerapkan aturan:
"Belum ada yang komentar, ayo bilang pertamax"
Diposting oleh MATA di 19.53 0 komentar